Welcome to http://laskarkristus.blogspot.com/
go to my homepage
Go to homepage
Bagaimana saya menerima pengampunan dari Tuhan? Klik di Sini
Hidup Kekal? Klik di sini
"Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas." (Mat 7:15)
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. (Efesus 2:8-9) Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.(Roma 10:9)
Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Roma 5:8)
Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 6:23) Allah ... yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. (1 Petrus 1:3) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Ingin Berlangganan Artikel Ini? Masukan email Anda:

Delivered by FeedBurner

Jumat, 15 April 2011

Pengakuan Iman Rasuli

Syahadat Para Rasul Pengakuan Iman Rasul
(Versi Katolik Roma) (Versi Protestan)
Aku percaya akan Allah, Aku percaya kepada Allah,
Bapa yang mahakuasa Bapa yang Mahakuasa,
pencipta langit dan bumi. Khalik langit dan bumi.
Dan akan Yesus Kristus, Dan kepada Yesus Kristus,
Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita. Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan kita
yang dikandung dari Roh Kudus, Yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh Perawan Maria; lahir dari anak dara Maria
Yang menderita sengsara Yang menderita sengsara¹
dalam pemerintahan Pontius Pilatus, di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,
disalibkan, wafat dan dimakamkan; disalibkan, mati dan dikuburkan,
yang turun ke tempat penantian, turun ke dalam kerajaan maut
pada hari ketiga bangkit Pada hari yang ketiga bangkit pula
dari antara orang mati; dari antara orang mati
Yang naik ke surga, Naik ke surga,
duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang mahakuasa, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa,
dari situ Ia akan datang Dan dari sana Ia akan datang
mengadili orang yang hidup dan yang mati. untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati
Aku percaya akan Roh Kudus, Aku percaya kepada Roh Kudus,
Gereja katolik² yang kudus, Gereja yang kudus dan am,²
Persekutuan para kudus, persekutuan orang kudus
pengampunan dosa, pengampunan dosa
Kebangkitan badan kebangkitan tubuh³
kehidupan kekal. Amin dan hidup yang kekal. Amin

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Pengakuan_Iman_Rasuli

Kepenuhan Hidup Dalam Kristus

Hidup dalam Kristus
KOLOSE 2:6-8

1. Kenapa kita harus terima Yesus sebagai Tuhan dan JURU SELAMAT    ?
Untuk bisa selamat kita harus terima YESUS sebagai Tuhan dan Juru SELAMAT. Yoh 14:6,” ……Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun dapat datang kepada BAPA kalau tidak melalui AKU.”

Bersyukurlah pada Tuhan karena kita tidak perlu berusaha untuk masuk surga dengan kekuatan sendiri tapi keselamatan itu diberikan cuma-cuma oleh Tuhan berdasarkan kasih karunia. Seketika itu juga dosa kita dihapuskan.

Menjadikan Yesus sebagai Tuhan artinya menjadi DIA sebagai Penguasa Tunggal dalam hidup kita. Kita tidak diperbudak lagi oleh hawa nafsu, dunia ataupun iblis. Saat itu juga hidup kita sudah berpindah dari alam maut menuju kekekalan. WOW, dasyat !

2. Hendaklah hidupmu  tetap di dalam DIA

Perpindahan dari alam maut menjadi kekekalan terjadi seketika (anugerah), Dan otomatis YESUS menjadi Tuan atas hidup kita.  Pabrik dosa memang sudah ditutup tapi hasil produksinya masih ada (suka bohong, menipu, mendendam, kepahitan, sombong, tidak bisa mengampuni, mementingkan diri sendiri,etc) dan butuh waktu untuk menghabiskannya. Dulu yang setiap saat selalu bohong, makin lama makin sedikit sampai akhirnya tidak berbohong lagi. Kita mampu melakukannya bukan dengan  kekuatan sendiri (daging vs daging) tapi kita kuasa Roh Kudus yang mengubahkannya  (daging vs roh). Hiduplah oleh roh maka kita dapat mematikan daging. Selama proses ini kita bisa jatuh ke dalam dosa tapi tidak hidup di dalam dosa. Karena kita sudah dipindahkan “alam” nya. Yesus akan memimpin kita dari kebenaran yang satu kepada kebenaran yang lain.

3. Hendaklah berakar dalam DIA

Yesaya mengatakan orang benar itu “pohon tarbantin kebenaran” “tanaman Tuhan” Pohon tarbantin ini hidup di padang gurun dan yang luar biasanya akar-akarnya ini menjulur sampai kedalaman 45-65 m untuk mencari sumber mata air dan  membutuhkan sumber mata air yang murni untuk pertumbuhannya. Hasilnya dapat kita lihat, musim kekeringan sekalipun tetap bertahan karena dia punya sumber mata air yang murni, segar, dan tidak pernah kering.

Demikian juga kita sebagai anak-anak Tuhan harus hidup mengakar di dalam Tuhan. Kejar hubungan pribadi bersama Tuhan, dapatkan sumber mata air yang murni dan tidak pernah kering itu. Sehingga pada saat rupa-rupa pengajaran yang mencoba mempengaruhi kita, kita tidak akan tergoyahkan karena kita berpegang teguh FirmanNya. Akan ada masa-masa kekeringan dalam hidup kita tapi Firman NYa akan menghibur dan menguatkan kita.

4. Dibangun di atas DIA
Tuhan tidak menyuruh kita untuk hanya tahu firman, tapi harus diimpartasikan dalam setiap aspek kehidupan dengan dasarnya firman Tuhan. Dibangun artinya hari demi hari manusia rohani semakin bertumbuh seiring pengenalan kita akan Tuhan. Tidak terus menerus menjadi bayi yang harus  diperhatikan, disuapin, dicebokin,etc, tapi harus meningkat dari bayi  menjadi balita, anak-anak, remaja, dewasa hingga siap menjadi mempelai Kristus. Mencapai kepenuhan dan kesempurnaan dalam Kristus YESUS.

5. Hendaklah bertambah teguh
,    
Masalah demi masalah Tuhan izinkan terjadi untuk membentuk karakter kita, apakah masih pakai kekuatan sendiri untuk menghadapinya atau mengandalkan Tuhan. Saat masalah itu datang (bukan akibat perbuatan kita 'loh) , tanamkan dalam diri kita bahwa Tuhan sedang memproses kita, untuk mendewasaan dan memurnikan kita seperti emas tua. Tuhan turut bekerja dalam segala perkara untuk orang-orang yang mengasihi DIA Roma 8:28

6. Hendaklah hatimu melimpah dengan ucapan syukur

Dengan mengucap syukur:
  • Kita  percaya dengan iman bahwa apa pun yang kita minta sudah diberikan oleh Tuhan.
  • Menyadarkan kita bahwa sebagai manusia  kita tidak mampu berbuat apa-apa di luar kehendak Tuhan
  • Melimpah mengandung makna meluber keluar, artinya sukacita kita dapat dinikmati juga oleh orang-orang di sekeliling kita.  Menjadi berkat dimanapun kita berada. Sehingga nama YESUS dimuliakan.

SEBAB ITU JANGANLAH KAMU MELEPASKAN KEPERCAYAANMU, KARENA BESAR UPAH YANG MENANTINYA
IBRANI 10:35
Sumber: http://ekasih.com/index.php/arsip/80-mei/354-kepenuhan-hidup-dalam-kristus

Ujian Wanita Kristen: Kenapa Wanita Kristen Tanpa Kerudung?

Burka: Diskriminasi Extrem terhadap Wanita
Kita pasti bingung dengan ayat 1 Kor  11:2-16 tentang "Hiasan Kepala Wanita".nit
(2) Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.
Di ayat ini Paulus mengatakan kepada kita dia sangat memuji umat Kristiani. Karena kita selalu ingat akan ajaran yang diberikannya mengenai Yesus Kristus. Kemudian Paulus mengingatkan kembali kepada kita, tentang satu hal yang menjadi dilema kita selama ini.
(3) Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.

Pada hakikinya Yesus adalah kepala umat, dan umatnya sendiri adalah tubuh-Nya. Dapat kita lihat melalui perikop Yohanes 15:5 "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." Mengenai Pokok anggur dan Kepala adalah analogi yang sama yang menyatakan bahwa kita tidak akan bisa hidup tanpa Kristus. Hidup tanpa keyakinan kepada Yesus adalah maut. Bagi kita yang memiliki keyakinan kepada Yesus tentunya kita mengikuti segala sesuatu yang telah diajarkan Yesus kepada kita, sebaliknya jika kita tidak berjalan di atas dasar teladan Yesus Kristus (Perintah dan Larangan-Nya) upahnya adalah maut. Roma 6:23 "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."

Baiklah kepada Topik sebenarnya. Paulus ingin mengingatkan kepada kita dan mencoba melatih hati nurani, benar atau tidaknya keputusan yang kita ambil terhadap suatu gambaran yang diberikan Paulus. Makanya Paulus bertanya kepada kita dengan pertanyaan yang sama dengan artikel ini "(13) Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?" Sebuah ujian bagi kita khususnya para perempuan Kristen untuk mengasah hati nurani kepada bagian hidup kita sendiri sebagai laki-laki, yakni perempuan. Tentunya jika ada pelajaran, itulah pertanyaan ujian buat kita.


(3) Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.
(4) Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya.
(5) Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.
(6) Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.
(7) Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.
(8) Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.
(9) Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.
(10) Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.
(11) Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.
(12) Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.

Nah selanjutnya, kita akan membedah sesuai dengan hati nurani kita mengenai perikop di atas. Perikop di atas telah digenapkan dengan pernyataan bahwa ..dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan, Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan;dan segala sesuatu berasal dari Allah. Demikian telah terjadi penyetaraan dan Keadilan Tuhan terlihat bahwa baik laki-laki atau perempuan tidak ada perbedaan dan telah disamakan. Karena baik laki-laki dan perempuan sama-sama berasal dari Allah.

Sehingga jika ada pertanyaan Pantas pantaskah seorang perempuan Kristiani mengenakan kerudung? Jawaban kuncinya adalah penyamarataan Allah kepada laki-laki dan perempuan. Laki-laki sama dengan Perempuan dalam arti 'kemanusiaan' bukan gender. Laki-laki adalah kepala bagi Istrinya dan istri adalah tubuh dari laki-laki, itu benar! Karena laki-laki adalah pelindung tubuh itu sendiri yaitu istrinya. Suami tidak perlu menggunakan kerudung, untuk bersaksi dan menyampaikan berita, namun perempuan  (istri) harus mengenakannya. Tetapi inilah sebuah test IQ dan EQ ringan buat kita semua. Pada intinya laki-laki akan tetap sama dengan perempuan, demikian sebaliknya. Dan jawabannya adalah "wanita kristiani boleh tidak berkerudung", Mengapa? lihat perikop berikut:

(15) tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.

Itu dikarenakan tudung itu sendiri telah ada di kepala para Perempuan, yaitu rambutnya sendiri. Dan itu telah menggantikan peran kerudung dalah hidup berjemaat Kristiani. Jadi jika ada orang non-Kristiani mengutip ayat di atas untuk memojokkan kita tentang "Pengharusan Kerudung bagi Perempuan". Sebagai wanita Kristen jawablah dengan halus, Tuhan telah memberikan kerudung yang lebih baik di atas kepalamu dan kepalaku. Tuhan Yesus akan memberikan Nilai A untuk pelajaran yang telah diberikan oleh Paulus kepada anda. Semoga kita semakin bertumbuh dalam iman Yesus Kristus dan berkembang setelah menerima ajaran-Nya dan lulus dari ujian-Nya.

Aleluya!!!

Yohanes 20: (29) Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Kamis, 14 April 2011

Tetap cinta dan setia kepada Yesus

Mazmur 73:26
Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.
Yesus Kristus adalah Juru Selamat
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, bagaimanakah kita menjalani hari-hari ini? Apakah kita berjalan dalam tuntunan Tuhan atau kita terlalu sibuk dengan urusan-urusan yang ada di dunia ini? Pada tulisan ini saya ingin kita merenungkan apakah kita tetap setia dan cinta kepada Tuhan Yesus walau apapun yang terjadi seperti ayat di atas? Kita melihat keadaan akhir-akhir ini bukannya bertambah baik malah semakin buruk, tapi kita sebagai anak-anak Allah harus tetap mempunyai iman bahwa hidup kita pasti tetap berada dalam lindungan Tuhan. Amin.

Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mencintai dan mengasihi kita. Dengan mengorbankan diriNya di atas kayu salib itu merupakan bukti nyata Dia sangat mencintai kita karena dosa kitalah yang ditanggungNya. Sekarang bagaimanakah rasa cinta kita kepada Tuhan? Apakah hanya pada saat banyak berkat kita dapat berkata "Ku cinta Yesus" atau jika kita sedang dalam pergumulan yang berat kita juga dapat mengatakan hal tersebut.


Habakuk 3:17-18
Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.


Terkadang jika kita memiliki banyak berkatpun kita bisa lupa sama Tuhan, tapi sekali lagi saya ingin mengigatkan bahwa Tuhanlah yang memberikan kita kekuatan untuk memperoleh kekayaan (Ulangan 8:18a), bukan karena kehebatan kita ataupun kepintaran kita.

Kumau cinta Yesus selamanya 2x
Meskipun badai / berkat
Silih berganti dalam hidupku
Ku tetap cinta Yesus selamanya

Biarlah jika kita menyanyikan lirik lagu di atas, itu benar-benar keluar dari dalam hati kita, bukan hanya di bibir kita saja. Bagaimana jika mulai sekarang kita berjanji diri sendiri dan kepada Tuhan bahwa kita akan tetap setia dan mencintai Tuhan di sepanjang kehidupan kita walaupun banyak beban hidup yang kita rasakan.


Mikha 4:5
Biarpun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama allahnya, tetapi kita akan berjalan demi nama TUHAN Allah kita untuk selamanya dan seterusnya
 
Sumber: http://hasil-renungan.blogspot.com/2010/04/tetap-cinta-dan-setia-kepada-yesus.html

Rabu, 13 April 2011

Mesias-Mesias Palsu, Tanda-Tanda Akhir Zaman

“Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang” (Matius 24:5).

Tafsiran pada ayat ini adalah teks kita, Matius 24:24,
“Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga” (Matius 24:24).
Para Murid bertanya kepada Kristus, “Bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (Matius 24:3). Dan Yesus memberikan sederet tanda kepada mereka – semua tanda itu menekankan tentang akhir dunia ini. Tanda pertama yang Ia berikan adalah munculnya “Mesias-Mesias” palsu, gadungan.”
Saya telah bertobat melalui mendengarkan khotbah dari II Petrus, pasal tiga, tentang akhir dari dunia ini, yang dikhotbahkan oleh Dr. Charles J. Woodbridge, pada 28 September 1961, tidak lama setelah ia meninggalkan Fuller Theological Seminary karena seminari ini telah dipenuhi oleh teologi liberalisme (Harold Lindsell, Ph.D., The Battle for the Bible, Zondervan Publishing House, 1976, hal. 111). Jadi subyek tentang nubuatan Alkitab begitu penting bagi saya pada tahun-tahun awal itu, dan masih demikian sampai hari ini. Saya pernah mengikuti siaran Dr. M. R. DeHaan yang berbicara tentang nubuatan Alkitab di radio setiap Minggu sore. Saya pernah mendengarkan Dr. J. Vernon McGee yang mengajar tentang nubuatan ketika ia mengajar Alkitab setiap pagi di radio sambil saya mengemudi ke tempat kerja. Saya pernah mendengarkan Billy Graham berkhotbah tentang tanda-tanda kedatangan Kristus pada program radio “Hour of Decision” pada tahun-tahun awal itu. Gembala saya sendiri, Dr. Timothy Lin, sering berkhotbah tentang tema-tema nubuatan Alkitab. Tema-tema itu sangat umum pada waktu itu, lebih dari empat puluh tahun yang lalu, mendengarkan khotbah tentang Kedatangan Kristus yang Kedua dan akhir zaman.
Hari ini, ketika itu dibutuhkan oleh banyak orang, kita mendengar sedikit sekali khotbah tentang subyek ini. Kita perlu mendengar lebih banyak tentang subyek ini hari ini. Khotbah-khotbah seperti ini sangat dibutuhkan sekarang – lebih lagi dari pada yang sudah-sudah – ketika dunia ini semakin terperosok turun di tempat yang licin menuju penghakiman.
Para Murid bertanya, “Bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (Matius 24:3). Kemudian Kristus memberikan beberapa tanda. Namun satu tanda yang pertama adalah ini – tanda tentang munculnya banyak Mesias palsu. Yesus berkata,
“Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang” (Matius 24:5).
Lihatlah apa yang Kristus katakan dalam ayat 24,
“Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga” (Matius 24:24).
Kedua ayat ini berbicara tentang penyesatan di akhir zaman berhubungan dengan Kristus yang sejati. Kata “menyesatkan” dalam kedua ayat ini diterjemahkan dari bentuk kata Yunani “planaō,” yang berarti “menyebabkan menyimpang… dari kebenaran” (Strong), “menipu dengan memimpin ke dalam kesalahan” (Vine). Poinnya adalah ini – akan ada penyesatan besar berhubungan dengan Kristus pada hari-hari penutupan dari dispensasi ini. Akan ada banyak Kristus palsu. Itulah tandanya – banyak Kristus-Kristus palsu. Itu telah terjadi dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Akumulasi Kristus-Kristus palsu, yang terus meningkat pada hari ini, adalah yang belum pernah terjadi dalam sepanjang sejarah dunia ini. Kita sekarang dihadapkan dengan begitu banyak Kristus-Kristus palsu yang menyesatkan kebanyakan orang. Dan inilah tujuan saya malam ini untuk memberikan dua hal kepada Anda, dan kemudian menjelaskannya kepada Anda dari Alkitab, siapakah Kristus yang sejati. Saya dapat memberikan beberapa hal lainnya kepada Anda, dan saya akan menyampaikannya Minggu malam yang akan datang, namun sekarang saya akan memfokuskan pada dua tanda “Kristus-Kristus” palsu pada umumnya yang muncul hari ini, yang mana saya percaya ini adalah tanda bahwa Kedatangan Tuhan yang Kedua dan akhir dari dunia ini sudah dekat.
I. Pertama, ada Kristus palsu dari teologi liberalisme.
Saya tahu tentang Kristus palsu itu. Ia telah diajarkan kepada kami di dua seminari liberal di mana saya menyelesaikan studi di sana setelah tamat perguruan tinggi. Untuk membuat ini mudah dimengerti, Kristus palsu ini hanya sekedar manusia biasa. Tidak ada hal-hal supranatural atau ilahi tentang dia. Ia hanya sekedar manusia biasa. Mereka mungkin mengatakan bahwa ia memiliki panggilan khusus dari Allah dan memiliki moral dan etik yang agung untuk dikatakan. Namun pada akhirnya, ia bukan Kristus dari Kitab Suci, ia bukan Allah yang menjelma dalam daging. Ia tidak menanggung dosa di kayu salib. Ia tidak mati untuk membayar dosa-dosa kita. Ia tidak bangkit secara jasmani dari kubur. Ia tidak naik ke Sorga dalam tubuh kebangkitan. Dan ia tidak akan datang kembali secara fisikal di awan-awan dan datang untuk mendirikan kerajaannya di bumi. Tidak, Kristus palsu dari teologi liberalisme bukanlah Kristus yang dipresentasikan Kitab Suci. Ia hanya seorang manusia yang baik, guru moral yang agung, dan kita harus mengikuti teladannya dan mencoba menjadi orang-orang baik seperti dia. Itu adalah posisi liberal tentang Kristus.
Spurgeon sedang menghadapi pandangan palsu tentang Kristus ini ketika ia berkata, “Saya berdiri demi kebenaran tentang penebusan walaupun gereja sedang dikubur di bawah hujan lumpur mendidih bidat modern (C. H. Spurgeon, “The Blood Shed for Many,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1974, volume XXXIII, hal. 374). Ini ada pada masa Spurgeon hidup bahwa Kristus palsu dari teologi liberalisme menjadi popular. Dan kesalahan ini diteruskan sampai hari ini di gereja-gereja Protestan arus utama. Pandangan ini dipopulerkan oleh Albert Schweitzer dalam bukunya, “The Quest of the Historical Jesus” (1906) dan buku-buku sejenis lainnya. Dr. Harry Emerson Fosdick, seorang liberal, menulis buku-buku popular tentang Kristus yang seperti itu. Pendetanya Barack Obama, Dr. Jeremiah Wright, dalam waktu yang lama mengajarkan Kristus dari perspektif ini. Saya senang Obama akhirnya meninggalkan gereja liberal itu beberapa bulan yang lalu!
Para teolog liberal mengatakan bahwa Yesus hanyalah manusia yang agung, seperti mereka katakan, “guru moral yang agung.” Dalam menghadapi pandangan liberal ini C. S. Lewis berkata,
Saya sedang mencoba di sini untuk mencegah siapapun mengatakan hal yang benar-benar bodoh yang orang-orang sering katakan tentang Dia: “Saya siap menerima Yesus sebagai guru moral yang agung, namun saya tidak menerima klaim-Nya sebagai Allah.” Ini adalah satu hal yang tidak harus kita katakan. Manusia yang hanya sekedar manusia belaka dan mengatakan hal-hal tentang Yesus bahwa Dia bukanlah guru moral yang agung. Ia mungkin juga dikatakan sebagai orang gila – pada level manusia yang mengatakan bahwa ia adalah telur rebus – atau bahkan ia akan menjadi Iblis Neraka. Anda harus membuat pilihan bagi diri Anda sendiri. Orang ini adalah Anak Allah; atau orang gila atau sesuatu yang lebih buruk dari itu. Anda dapat menolak Dia karena kebodohan, Anda dapat meludahi Dia dan membunuh Dia sebagai iblis; atau Anda dapat tersungkur di kaki-Nya dan memanggil Dia Tuhan dan Allah. Namun marilah kita tidak datang dengan omong kosong dengan mengatakan tentang Dia bahwa Ia hanyalah guru manusia yang agung. Ia tidak pernah membiarkan itu terbuka bagi kita. Ia tidak suka itu (C. S. Lewis, Mere Christianity, Macmillan, 1952, hal. 40-41).
Satu professor di seminari liberal di United Presbyterian yang mana di sana saya pernah kuliah dan memperoleh gelar Doktor Ministri saya, berkata, “Hymers adalah mahasiswa yang baik, namun ia mempertahankan suatu pandangan yang sangat sempit.” Itulah apa yang mereka katakan ketika Anda percaya Alkitab – yaitu Anda memiliki “pandangan yang sempit.” Yah, Anda juga memiliki pandangan yang sempit ketika Anda melihat kaca spion mobil Anda. Namun jika Anda tidak melihat itu, Anda akan mendapatkan mobil Anda menjadi rongsokan ketika Anda pindah jalur jalan! Dan seperti itu jugalah Alkitab. Jika Anda tidak melihat ke sana, dalam Alkitab, ketika mempelajari tentang Kristus Anda akan benar-benar menjadi rongsokan pada Penghakiman Akhir!
Yesus bertanya kepada para Murid,
“Kata orang, siapakah Aku ini?” (Markus 8:27).
“Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi” (Matius 16:14).
Dengan kata lain, orang-orang yang berkata bahwa Dia adalah manusia biasa, seperti pandangan yang para teolog liberal ajarkan sekarang.
“Lalu Yesus bertanya kepada mereka: ‘Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?’ Maka jawab Simon Petrus: ‘Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!’” (Matius 16:15-16).
Yesus menjawab Petrus,
“Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Matius 16:17).
Itu adalah kuasa Allah yang menyatakan siapa Kristus yang sesungguhnya, bahwa Ia adalah Allah Anak, Pribadi Kedua dari ke-Allahan, Pribadi Kedua dari Trinitas.
“Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9).
Dr. Ryrie berkata ini adalah “pernyataan yang kuat tentang keillahian dan kemanusiaan Allah-manusia” (Charles C. Ryrie, Ph.D., The Ryrie Study Bible, Moody Press, 1978, note on Colossians 2:9). Para teolog liberal tidak mengetahui kebenaran tentang Kristus ini. Mereka berpikir bahwa Ia hanyalah seorang guru moral yang agung karena mereka tidak pernah dipertobatkan oleh kuasa dan illuminasi Allah.
“Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan... mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga”
     (Matius 24:24).
Kristus dari teologi liberal hanyalah seorang guru moral yang agung. Namun ini adalah salah satu dari “Kristus-Kristus” palsu yang telah muncul di seluruh dunia sebagai tanda dari akhir zaman, karena Yesus yang sejati jauh lebih dari seorang guru moral yang agung!
II. Kedua, ada Kristus palsu yang dipopulerkan oleh banyak Decisionisme.
Gerakan Fundamentalis muncul pada permulaan abad sembilan belas, sebagai reaksi terhadap teologi liberalisme. Orang-orang liberal berkata bahwa Kristus hanyalah guru yang agung. Orang-orang Fundamentalis mengatakan bahwa Ia adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia – Allah-manusia. Keillahian penuh Kristus ditegaskan oleh orang-orang Fundamentalis. Mereka benar melakukan ini.
Bagaimanapun juga, penekanan mereka tentang keillahian Kristus mulai kabur dan berubah ke dalam doktrin palsu dari waktu ke waktu. Ini dibantu oleh “Decisionist” yang menekankan untuk “Mengundang Yesus masuk ke dalam hati Anda” – dicontohkan oleh Robert Boyd Munger dalam traktatnya yang terkenal, “My Heart – Christ’s Home” (“Hatiku – Rumah Kristus”). Lambat laun, banyak “Decisionist” evangelical mulai berpikir tentang Kristus sebagai “roh” yang tinggal dalam hati mereka – dan doktrin Alkitabiah tentang Kristus yang telah bangkit dan duduk di sebelah kanan Allah, di Sorga, dikaburkan dan diturunkan.
Sebagai hasil Decisionist yang menekankan “Mengundang Yesus masuk ke dalam hati Anda,” kemanusiawian Kristus dilupakan oleh banyak orang, dan Ia hanya menjadi roh saja. Namun Yesus yang riil bukan roh! Itu dibuat sangat jelas oleh Yesus setelah Ia bangkit secara fisikal dari kubur. Ketika Kristus yang telah bangkit itu menampakkan diri kepada para Murid,
“Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu” (Lukas 24:37).
Namun Kristus yang telah bangkit itu berkata kepada mereka,
“Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka” (Lukas 24:39-40).
Beberapa hari berikutnya,
“Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga” (Lukas 24:51).
Kemudian dua malaikat datang dan berkata kepada mereka,
“Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (Kisah Rasul 1:11).
Jadi, tubuh dan tulang yang sama dari Yesus yang telah dibangkitkan itu naik ke Sorga pada hari Kenaikan. Dan “daging dan tulang” yang telah dibangkitkan, Yasus “yang sama ini” yang akan datang kembali, turun dari Sorga, sama seperti ketika Ia naik (Kisah Rasul 1:11) ketika Ia kembali dalam kemuliaan pada Kedatangan-Nya yang Kedua!
Hari ini, Yesus yang sejati duduk di sebelah kanan Allah Bapa dalam “daging dan tulang” tubuh kebangkitan-Nya (Lukas 24:39). Kita diberitahu berulang-ulang dalam Perjanjian Baru bahwa sekarang Ia ada di Sorga di sebelah kanan Allah dalam ayat-ayat seperti Ibrani 1:3; 8:1; 10:12; 12:2; I Petrus 3:22; Lukas 22:69; Roma 8:34; Efesus 1:20; dan banyak ayat lainnya dalam Perjanjian Baru. Markus 16:19 menyimpulkan semua ayat ini dengan mengatakan,
“Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah” (Markus 16:19).
Jadi, kita melihat bahwa ide Decisionist tentang Yesus sebagai “roh-Kristus” yang masuk “ke dalam hati Anda” adalah palsu. “Roh-Kristus” dari “Decisionisme” adalah Kristus yang palsu, sama palsunya dengan “Kristus sebagai guru agung” dari teologi liberalisme.
“Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan... mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga”
      (Matius 24:24).
Kami berdoa kiranya Anda mau datang kepada Kristus yang sejati dengan iman. Ia benar-benar Allah-manusia. Ia benar-benar Pribadi Kedua dari “Ke-Alahan.” Ia benar-benar telah mati di kayu Salib untuk membayar penghukuman dosa manusia. Ia benar-benar bangkit secara jasmaniah, “daging dan tulang” (Lukas 24:39) dari antara orang mati. Ia benar-benar telah naik ke Sorga duduk di sebelah kanan Allah (Roma 8:34, dsb.). Dan jika Anda datang kepada Kristus yang sejati, Ia akan menyucikan dosa-dosa Anda dengan darah-Nya, dan Anda akan diselamatkan untuk selama-lamanya.

Sumber: http://www.rlhymersjr.com/Online_Sermons_Indonesian/2008/101208PM_FalseChrists.html

Mukjizat

Yesus memberi makan 5000 orang
Pengantar
Secara umum kita memahami mujizat sebagai peristiwa yang diluar perhitungan atau jangkauan akal manusia. Misalnya, seseorang divonis dokter karena penyakitnya yang parah tidak akan dapat disembuhkan, tapi ternyata kemudian dia sembuh. Atau orang yang mengalami kecelakaan lalu lintas yang sangat fatal, mobilnya ringsek, tapi ternyata dia selamat dengan hanya luka-luka kecil. Atau orang yang dulunya buta, tapi setelah didoakan eh dia bisa melihat.
Pengertian tersebut di atas sebetulnya sudah ada sejak dahulu. Adalah Agustinus, seorang Bapa Gereja, yang mendifinisikan mujizat sebagai suatu kejadian yang berlawanan dengan apa yang diketahui tentang alam. Jadi, mujizat di sini adalah sesuatu yang suprarasional (melampaui rasio kita).
Akan tetapi seiring berjalannya peradaban manusia, mujizat juga mengalami perkem bangan makna. Ada mujizat yang rasional. Di sini mujizat berarti sesuatu yang sebelumnya tak terpikirkan. Sebagai contoh adalah temuan-temuan ilmu dan teknolo gi. Komputer generasi pertama besarnya sebesar gedung perpustakaan, kini cukup hanya sebesar telapak tangan (palmtop) adalah sebuah mujizat, yang dengannya mengirim surat cukup dengan dua atau tiga detik saja ke berbagai penjuru dunia.
Ada juga mujizat spiritual, yang menunjuk pada peristiwa-peristiwa yang mencahayai hubungan kita dengan Allah. Misalnya saja ketika Yesus menyembuhkan orang yang sakit karena si sakit merespons kuasa Yesus dengan imannya. Mujizat ini juga merupakan tindakan langsung dari kerahiman (rasa belas kasih) Allah itu sendiri.
Sebenarnya, hal-hal yang biasa dan sehari-hari terjadi juga adalah mujizat. Dan ini yang sering tidak kita sadari. Misalnya, dulu kita adalah seorang bayi yang mungil dan lemah. Namun sekarang kita beranjak menjadi dewasa dengan badan yang lebih besar dan tegap daripada orang tua kita. Pertumbuhan ini kita yakini sebagai mujizat Tuhan (ada karya Tuhan di dalamnya).
Lalu apa dan bagaimana sebetulnya mujizat menurut Alkitab?

Mujizat dalam Perjanjian Lama
Setiap mujizat besar dalam Alkitab selalu didahului oleh mujizat-mujizat yang lebih kecil. Mujizat yang lebih kecil itu sendiri sebenarnya hendak mempersiapkan manusia pada mujizat yang besar itu. Pernyataan ini sama seperti tanda. Sebuah tanda tidak lah lebih berarti daripada apa yang ditandakan.
Sebenarnya ada banyak hal yang merupakan mujizat dalam PL, misalnya : peristiwa penciptaan di mana kekacaubalauan diubah menjadi suatu ketertiban dan keteraturan; Allah yang berbicara kepada bapa leluhur Israel dan menjawab doa-doa mereka dengan cara-cara yang mengherankan bahkan tak terbayangkan; Allah yang tampil dalam semak belukar yang menyala, api dan awan; Allah yang meluputkan Israel dari serangan Asyur (2 Raj. 20:11) dsb. Namun, peristiwa yang biasanya dianggap mujizat yang khas dari Perjanjian Lama adalah peristiwa keluaran dari Mesir.
Kata yang digunakan untuk menyebut mujizat adalah oth (=tanda) yang dipergunakan untuk sejumlah tulah yang menimpa Mesir (Kel. 7:3). Peristiwa-peristiwa ini tidak harus menjadi peristiwa yang luar biasa karena ia menunjuk pada peristiwa yang lebih agung, yaitu peristiwa keluaran dari Mesir.
Sebenarnya, berbagai tulah di Mesir itu tidak perlu terjadi, seandainya Firaun mau percaya dan taat pada kuasa Allah. Jadi, bisa dikatakan bahwa mujizat yang terjadi saat itu merupakan sarana bagi Allah menyatakan keberadaan dan kuasa-Nya kepada manusia (Firaun dan orang Mesir). Kemudian, tanda-tanda itulah yang bermuara pada peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir sebagai sebuah bangsa yang merdeka.
Dalam kehidupan bangsa Israel pasca Mesir, peristiwa mujizat atau munculnya tanda juga masih terjadi. Dalam Ul. 13:1-3, ada nabi atau pemimpi yang bisa melakukan tanda atau mujizat. Hanya saja, Allah memperingati Israel agar mereka tidak terbujuk oleh nabi atau pemimpi itu untuk mengikuti allah lain. Jadi, terjadinya tanda atau mujizat itu seharusnya menunjuk pada kuasa dan keagungan Allah, bukan si pembuat mujizat atau allah lain.
Mujizat juga bisa merujuk kepada ketepatan waktu Allah dalam menolong dan menye lamatkan umat-Nya. Misalnya pada peristiwa manna dan burung puyuh ketika bangsa Israel dalam perjalanan di padang gurun. Juga ketika Musa membelah laut merah dengan tongkatnya. Belakangan para ahli menunjukkan bahwa semua itu adalah peristiwa alam, tapi toh kenyataan ini tidak mengurangi nilai mujizat di dalamnya; bahwa peristiwa alam itu terjadi tepat pada saat yang dibutuhkan, itulah mujizat.

Mujizat dalam Perjanjian Baru
Kata yang digunakan adalah teras (mujizat), selalu dipakai bersama-sama dengan semeion ( tanda), untuk menunjukkan bahwa yang dimaksud ialah mujizat yang bermakna, bukan mujizat yang melulu keajaiban. Ada juga kata dunamis (kuasa yang mengagumkan), yang menunjuk pada suatu tindakan Allah yang dapat mengerjakan segala sesuatu, yang merupakan sumber dari segala kekuasaan. Ada juga kata ergon (kuasa). Ada juga tiga buah kata yang semuanya ditemukan dalam pemakaian di dunia Yunani (kafir), yaitu thaumasia (=hal-hal ajaib; Mat. 21:15); paradoxa (hal-hal aneh; hanya terdapat dalam Luk. 5:25); dan aretai (=perbuatan-perbuatan menakjub kan;hanya pada 1 Ptr. 2:9).
Dalam PB, mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Yesus (penyembuhan, pengusiran roh jahat, mujizat alam) maupun mujizat yang terjadi karena kuasa Allah (gempa bumi, robeknya tirai Bait Suci) merupakan mata rantai awal di dalam penyingkapan rahasia kemuliaan Allah yang akhinya tersingkap di salib. Tanda dan mujizat yang Yesus lakukan itu sebenarnya hendak menantang manusia (orang Yahudi saat itu) untuk merespons pada suatu zaman di mana Allah memerintah secara definitif yang ditandai dengan hadirnya Kerajaan Allah dan kuasa penebusan Allah yang tengah dilakukan yang berpuncak pada peristiwa salib. Jadi, sebenarnya tanda dan mujizat itu tidak lebih penting dari peristiwa yang ditandakannya, yaitu hadirnya Kerajaan Allah (bnd. Mat. 12:28) dan peristiwa salib itu sendiri.
Yang menarik dari mujizat kesembuhan yang Yesus lakukan adalah bahwa kadang Ia menjadikan iman sebagai syarat dari kesembuhan seseorang (Mat. 8:5-10), tetapi kadang Ia langsung menyembuhkan si sakit (Mrk. 7:31-37). Lalu, adakalanya Yesus dipaksa untuk melakukan mujizat dengan cara yang lain (Mrk. &:31-37). Pada perikop yang sama juga ditampilkan sosok Yesus yang menolak publisitas (bahkan pada kesempatan yang lain pun), bahkan ketika Ia menyembuhkan orang yang tuli dan gagap, itu dilakukanNya dalam kesendirian.
Yesus memberi teguran pada para ahli Taurat dan orang Farisi yang suka meminta tanda ( Mat. 12:38-39; Mrk. 8:11-12) – sebenarnya ini adalah kecenderungan manusia. Bagi Yesus, permintaan mereka itu menunjukkan ketidak percayaan mereka akan kuasa dan wibawa ilahi yang dimiliki oleh Yesus. Jadi, tanda dan mujizat itu sebenarnya bukanlah syarat bagi munculnya iman dalam diri manusia. Artinya lebih jauh adalah iman atau kepercayaan kepada Yesus seharusnya muncul dengan atau tanpa tanda dan mujizat sekalipun.
Lagipula, Yesus memberikan peringatan kepada kita bahwa akan datang suatu masa di mana mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mengadakan tanda dan mujizat. Namun semua yang mereka lakukan itu dengan maksud menye satkan orang-orang percaya (Mrk. 13:22). Jadi, dengan tegas Tuhan Yesus menga jarkan bahwa tanda dan mujizat itu bukanlah satu-satunya cara untuk membuat kita percaya akan kuasa dan karya Allah.
Selain mujizat yang dilakukan Yesus, PB juga mencatat bahwa para murid Yesus pun melakukan banyak mujizat (Mrk. 6:7-13). Lalu pada zaman para rasul, Paulus menyaksikan bahwa dirinyapun melakukan mujizat ( Kis. 20:7; Kis.14:8; Kis.28:8; 2 Kor. 12:12; Rm. 15:18-19a; Gal. 3:5). Tentunya, tanda dan mujizat yang dilakukan oleh para murid dan rasul ini hendak menunjukkan kuasa Allah kepada bangsa-bangsa yang belum percaya kepada Allah di dalam Yesus Kristus. Jadi, keberadaan tanda dan mujzat itu berkaitan erat dengan pertumbuhan gereja.
Selain itu, berkenaan dengan perbuatan-perbuatan ajaib yang dialami oleh orang-orang kafir (non-Yahudi), Paulus menegaskan dalam Korintus. 12:12-6 bahwa Allah menger jakan semua perbuatan ajaib itu dalam semua orang. Jadi, dengan tegas diyakini bahwa Allahlah yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib itu, tanpa memandang apakah orang yang mengalaminya sudah percaya atau tidak.

Memaknai Mujizat Kini: Bercermin pada Nabi Elia (1 Raj. 19:9-18) dan Pengajaran Yohanes Calvin
Rasanya kita perlu mengakui bahwa manusia menyukai hal-hal yang bersifat spekta kuler dan itu sangat mempengaruhi spiritualitasnya. Misalnya, peristiwa yang diyakini sebagai penampakan Yesus pada dinding sebuah rumah di Jl. Karmat V beberapa tahun yang lalu mengundang perhatian banyak orang. Namun, satu hal yang sering dilupakan adalah bahwa Allah mampu bekerja baik secara supra-alami (hal-hal yang tidak biasa/alami) maupun secara alami (hal-hal yang biasa terjadi).
Dari fenomena ini sebenarnya kita dapat belajar banyak dari kisah Nabi Elia. Siapakah Elia? Oh..., Elia adalah nabi yang sangat spektakuler. Ia mampu memberikan makan seorang janda denga tepung dalam tempayan dan sedikit minyak di buli-buli (1 Raj. 17:12-15). Ia mampu menghidupkan anak yang mati ( 1 Raj. 17:18-22). Ia pernah membunuh 450 nabi baal sekaligus. Ia pernah berdoa mendatangkan hujan (1 Raj. 18:36-46). Bahkan ia terangkat ke sorga dengan kereta berapi (2 Raj. 2:11).
Dengan serangkaian peristiwa spektakuler yang ia alami tersebut, tentunya Elia mengalami bahwa Allah berkarya di balik semua itu. Namun, pernah suatu ketika ia mengalami keputusasaan dengan sikap Israel terhadap Allah (1 Raj. 19:9-18). Lalu Tuhan menyatakan diri kepadanya di Gunung Horeb. Apa yang terjadi? Tuhan tidak dijumpai dalam angin besar dan kuat, gempa dan api yang terjadi secara spektakuler itu. Tuhan dijumpai dalam angin sepoi-sepoi, suatu peristiwa yang biasa sebenarnya. Hal ini sebenarnya teguran kepada Elia, agar ia melaksanakan tugasnya dengan penuh kesetiaan, dengan apa yang bisa ia kerjakan, tidak melulu melakukan hal-hal yang spektakuler dan luar biasa.
Pengajaran yang serupa tentang hal ini kita dapatkan dari Yohanes Calvin, seorang reformator. Ia mengkritik secara tajam praktik gereja waktu itu. Gereja Abad Perte ngahan melakukan hal yang menurutnya berlebihan, yaitu berdoa kepada tokoh Alkitab dan orang-orang kudus, pemujaan kepada sisa-sisa tubuh mereka (relikwi), serta kepada kuasa imamat para imam yang dasarnya tak jelas bagi kita. Lalu, Calvin memandang bahwa semua kehidupan (seharusnya) mengingatkan kita akan kehadiran dan pemeliharaan-Nya yang bersifat sakramental dan mujizat. “Kita tidak perlu memer lukan bukti luar biasa akan kehadiran dan kekuasaan Allah, karena kita memiliki begitu banyak hal yang mengingatkan itu ke mana pun kita memandang,” kata Calvin. Sebagai contoh, Yesus mengajak kita memandang bunga bakung di padang bukan hanya sebagai bunga bakung, melainkan sebagai bunga yang didandani Allah lebih dari Salomo.
Jadi, Calvin mengajarkan agar kita mencari mujizat dalam keutuhan ciptaan, dalam cara sehari-hari di mana Allah menyediakan kesehatan dan kesejahteraan kita, dan dalam Firman Allah yang terus menerus berbicara kepada kita dan mengingatkan kita akan kehadiran-Nya yang penuh kasih. Disini kita dapat melihat bahwa dalam gereja Protestan ada beberapa perbedaan dalam cara pandang orang Kristen memandang mujizat. Yang terpenting bagi Calvin adalah orang Kristen memandang mujizat Tuhan dalam keseharian, kesederhanaan dan hal-hal yang umumnya dianggap biasa, sebab di dalamnya Tuhan memperlihatkan kuasa penciptaan dan pemeliharaan-Nya yang melampaui akalbudi manusia (mujizat supra-rasional).
Dari pemaparan di atas, rasanya kehidupan kita tidak dapat disandarkan kepada peristiwa-peristiwa luar biasa saja, karena peristiwa mujizat bukan hal yang biasa dan agak jarang terjadi. Di sisi lain, kehidupan kita boleh dikuatkan oleh kekaguman kita akan perbuatan Allah yang melampaui akal dan nalar manusia. Tak seorangpun dapat menangkap habis-habis misteri ilahi dalam pekerjaan Allah, Kristus dan Roh Kudus. Hanya saja, kita harus menjaga agar kekaguman dan ketakjuban kita tidak jatuh pada peristiwa irasional (melawan akal).

Penutup
Dapat disimpulkan bahwa mujizat bukan hanya merupakan kejadian spektakuler yang luar biasa. Mujizat adalah juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui peristiwa biasa. Ketika kita dapat merasakan kehadiran Allah dalam setiap apa yang kita alami, setiap tarikan dan hembusan napas kita, lalu kita dapat bersyukur karenanya, itu adalah mujizat.
Manakala kita percaya akan pemeliharaan Allah atas kesejahteraan kita, maka kita mesti percaya pula akan kehadiran Allah bersama kita dalam penderitaan kita. Pembaruan pengharapan dan pemahaman kita akan mujizat memampukan kita untuk merasakan tangan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita dan bersyukur kepada Allah atas mujizat pengampunan Kristus, mujizat kasih karunia Allah, mujizat penghiburan Roh Kudus dan mujizat kehidupan itu sendiri.
Sumber: http://www.sahabatsurgawi.net/bina%20iman/mujizat.html

Minggu, 10 April 2011

Haram dan Tidak Haram Bagi Kristen

Babi itu Halal bagi Kristen
Memang benar, tetapi yang dimaksud secara jelas adalah Babi Hutan, Unta, Pelanduk dan Kelinci Berikut cuplikan dari Imamat 11: 3-7 "setiap binatang yang berkuku belah, yaitu yang kukunya bersela panjang, dan yang memamah biak boleh kamu makan. Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu. Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu. Juga kelinci, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu. Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. "


Kitab Imamat merupakan bagian dari Kitab Perjanjian Lama, dan juga masih tergabung dalam kitab Taurat (Kitab Suci agama Yahudi). Meskipun begitu, oleh Yesus di Kitab Perjanjian Baru, aturan tersebut tidak lagi sekedar aturan yang bersifat kebiasaan dari tingkah laku tata cara makan, tetapi digenapi menjadi perilaku yang hakiki bahwasannya segala sesuatu yang masuk kedalam mulut tidaklah najis, tetapi segala sesuatu yang keluar dari mulut, itulah yang najis. Karena yang keluar dari mulut manusia itulah akan memunculkan pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat Bahkan di Indonesia ada ibarat yang menyatakan bahwa mulut kita dapat lebih tajam dari pisau. Berikut cuplikan dari Kitab Perjanjian Baru, Matius 15: 17-20.

"Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang."

Sabtu, 09 April 2011

Benarkah Yesus Tidak Mati Disalib?: Sebuah Pertanggung jawaban Iman Terhadap Pandangan Islam (Oleh: Bedjo Lie, M.Div.)

Yesus mati di kayu salib
Belum lama ini, penulis tertarik dengan sebuah buku kecil laris yang dikarang oleh Hj. Irene Handono. Buku ini secara terang-terangan menolak fakta kematian Yesus Kristus atau Isa Almasih di kayu salib. 1) Senada dengan itu, sebuah buku sensasional berjudul Jangan Ditunggu!!! Isa Bin Maryam Tidak Akan Turun Di Akhir Zaman (Ready or Not Jesus is Not Coming) yang ditulis oleh Huttaqi juga menegaskan keyakinan yang sama dalam salah satu bagiannya: Yesus atau Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib. 2)

Andaikata fakta kematian Yesus Kristus di kayu salib memang dongeng belaka, apakah yang akan terjadi pada kekristenan? Dengan mudah kita berimajinasi bahwa seluruh bangunan kekristenan akan runtuh pada saat yang bersamaan. Ah, itu kan hanya imajinasi! Mungkin Anda berpikir demikian. Akan tetapi, penegasan bahwa Nabi Isa tidak mati disalib benar-benar sebuah gema yang kuat dalam tulisan-tulisan Islam. Tentu saja hal ini adalah klaim serius yang perlu ditanggapi oleh orang Kristen.

Sebelum kita memasuki topik tersebut lebih dalam lagi. Mari kita mulai dengan tanggapan pembuka terlebih dahulu. Pertama, dalam konteks tren pluralisme teologis yang berusaha menyamaratakan semua agama, penulis ingin memberikan applause atas kegigihan pribadi-pribadi seperti Irene Handono dan teman-temannya yang mengumandangkan eksklusivitas teologi agamanya secara terbuka. Kedua, buku-buku yang bersikap skeptis dan mempertanyakan keyakinan Kristen seperti di atas seringkali mendatangkan manfaat positif bagi umat Kristen, yaitu bangkitnya kesadaran berapologetika. Oleh karena itu, pertama-tama, lebih baik kita mengucapkan matur nuwun kepada penulis buku-buku di atas.3)

Selanjutnya, matur nuwun saja rasanya tidak cukup. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis ingin mewujudkan penghargaan tersebut dengan cara menegaskan perbedaannya dengan pandangan Kristen sambil tetap membangun rasa hormat terhadap pribadi-pribadi yang berbeda pandangan. Oleh karena itu, tulisan ini akan memaparkan pandangan Islam terhadap fakta kematian Yesus Kristus di kayu salib dan kemudian dilanjutkan dengan perspektif Kristen terhadap isu krusial ini. Terakhir, penulis ingin mengembangkan pengakuan atas
perbedaan doktrin sebagai dasar toleransi sejati dalam relasi antar umat beragama.

Penolakan Islam atas Fakta Kematian Yesus di Kayu Salib
Pandangan Muslim yang populer ini didasarkan pada penafsiran ayat Al Qur’an Surat Ani-Nisa’ 4:157-158 yang berbunyi:

Sesungguhnya Kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra maryam, Utusan Allah, padahal mereka tidak membunuhnya, dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka salib dan bunuh) adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham tentang (pembunuhan dan penyaliban) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang siap yang dibunuh itu, kecuali hanya mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh adalah Isa. Tetapi sebenarnya Allah telah mengangkat Isa itu kepada-Nya dan Allah itu adalah Maha Besar dan Maha Bijaksana.

Berdasarkan ayat di atas, hampir semua Muslim percaya bahwa Isa tidak mengalami kematian akibat disalib melainkan diangkat Allah secara supranatural kepada-Nya.4) Walaupun demikian, karena ayat-ayat tersebut tidak menceritakan secara jelas mengenai cara Allah mengangkat Isa, maka dalam kalangan Muslim sendiri sedikitnya timbul dua pandangan utama.

Yesus Tidak Disalib Sama Sekali
Pandangan pertama ini menyatakan Isa tidak mengalami penyaliban sama sekali karena Allah telah menyelamatkan-Nya dengan cara membuat orang lain serupa dengannya. Para penganut pandangan ini terdiri dari berbagai golongan. Penafsiran yang paling umum adalah kepercayaan bahwa Yudas Iskariotlah orang yang diserupakan dengan Isa dan mengalami penyaliban. Para pendukung pandangan ini percaya bahwa keadilan Allah membuat Yudas Iskariot sebagai pengkhianat utusan Allah mendapat hukuman langsung dari Allah, yakni disiksa dan dibunuh di tiang salib.5) Proses penyerupaan ini dilakukan Allah pada waktu Isa akan ditangkap oleh orang-orang Yahudi di taman Getsemani. Pada waktu itu Isa telah menyelinap tersembunyi dan Yudas telah dijadikan serupa dengan Isa sehingga Yudaslah yang ditangkap dan disalibkan.6)

Penafsiran berikutnya menyatakan bahwa Simon dari Kirene adalah pengganti Isa di kayu salib. Pendukung pandangan ini percaya bahwa Isa dilepaskan dari usaha penyaliban pada waktu di tengah jalan dari istana Pilatus menuju ke bukit Golgota. Di tengah jalan ini pada mulanya Isa memikul salib-Nya sendiri tetapi kemudian ia ditukar dengan orang lain bernama Simon dari Kirene. Simon inilah yang akhirnya mati tersalib sedangkan Isa diangkat Tuhan ke langit.7) Selain kedua pandangan tersebut masih banyak lagi penafsiran lain mengenai figur pengganti Yesus.8)

Yesus Disalibkan Tetapi Tidak Mati
Berbeda dengan pandangan ortodoks di atas, para penafsir modern mengembangkan pandangan kedua sebagai alternatif atas pandangan pertama. Mereka berpendapat bahwa Isa memang disalibkan di bukit Golgota tetapi tidak sampai mati. Berdasarkan Surat Ani-Nisa’ 4:157 mereka percaya bahwa Isa hanya diserupakan saja kepada orang-orang Yahudi seakan-akan Ia sudah mati, padahal hanya pingsan saja. Jadi tidak ada orang lain yang diserupakan dengan Isa. Selanjutnya, dianyatakan bahwa Isa dikuburkan di pemakaman Yusuf Arimatea oleh Yusuf sendiri dengan ditemani oleh Nikodemus. Setelah Isa sadar dari pingsannya, ia dibantu Yusuf keluar dari kubur dengan tidak diketahui pengawal makam itu. Hal ini dapat terjadi karena para tentara Romawi baru mulai menjaga kubur Yesus sehari setelah Ia dikuburkan (Mat. 27:62-66). Oleh karena itu mereka telah tertipu dalam pengawalan ini. Setelah Yesus ke luar dari gua kubur tersebut, maka Isa menemui murid-murid-Nya selama 40 hari itu secara sembunyi-sembunyi.9) Perpisahan dengan murid-murid-Nya terjadi di dekat bukit Zaitun. Hasbullah Bakry mengutip pandangan ulama-ulama Ahmadiyah yang menyatakan bahwa Isa berdiam di Kasymir hingga meninggal di sana pada umur yang tua sebagai seorang yang terkenal saleh.10)

Dua Nada Satu Suara
Perbedaan dari kedua pandangan di atas amat jelas. Pandangan pertama percaya bahwa Yesus telah diselamatkan Tuhan sebelum mengalami penyaliban, sedangkan pandangan kedua percaya bahwa Yesus diselamatkan Tuhan dari penyaliban yang ia alami. Pandangan pertama percaya akan adanya figur pengganti Yesus yang mengalami penyaliban; sedangkan pandangan kedua tidak mempercayai adanya figur pengganti melainkan mengusung teori bahwa Yesus hanya pingsan dan tidak mati. Secara jujur kita harus memandang bahwa dua versi penafsiran ini amat berbeda dan saling bertentangan. Walaupun demikian, terdapat kesamaan yang hakiki dalam kesepakatannya untuk menolak fakta kematian Yesus di kayu salib.

Bagaimanakah respon kita sebagai orang Kristen terhadap kedua pandangan tersebut? Bagaimanakah seharusnya kita memberikan pertanggungan jawab atas iman kita dalam fakta sejarah yang paling krusial ini?

Penegasan Kristen atas Fakta Kematian Yesus di Kayu Salib
Orang Kristen perlu mengembangkan toleransi positif terhadap keyakinan Muslim yang bertentangan dengan keyakinannya. Tetapi jelaslah bahwa toleransi tidak berarti menyetujui pandangan orang lain. Kata-kata Frans Magnis Suseno memberikan pencerahan buat kita:

”Toleransi berarti bahwa, meskipun saya tidak meyakini iman-kepercayaan Anda, meskipun iman Anda bukan kebenaran bagi saya, saya sepenuhnya menerima keberadaanAnda. Saya gembira bahwa Anda ada, saya bersedia belajar dari Anda, saya bersedia bekerja sama dengan Anda.”11)

Dalam kaitan dengan fakta kematian Yesus Kristus di kayu salib, hukum logika non kontradiksi jelas tidak memungkinkan kebenaran posisi Kristen dan Muslim secara bersamaan. Alister E. McGrath menyatakannya dengan tegas, “if one is correct on this historical issue, the other is incorrect.”12) Sebagai implikasi lebih lanjut, kebenaran dari Al Qur’an maupun Alkitab dipertaruhkan dalam masalah penyaliban ini. Oleh karena itu, sebagai orang percaya, kita perlu dengan jelas memahami epistemologi yang kita gunakan dalam meyakini kematian Yesus di kayu salib. Dalam bagian ini penulis akan memberikan tiga argumentasi yang dapat menjadi pedoman orang percaya untuk meyakini kematian Yesus di kayu salib.

Argumentasi dari Alkitab
Pertama-tama harus diakui bahwa keyakinan orang percaya akan kematian Yesus didasarkan atas epistemologi wahyu yaitu Alkitab. Pemahaman orang percaya terhadap fakta kematian Yesus di kayu salib tidaklah didasarkan atas penafsiran yang rumit melainkan penalaran yang langsung atas narasi Injil dan banyak bagian lain dalam Alkitab. Ayat-ayat Alkitab berbicara lugas tentang kematian Yesus disalib.

“Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya” (Mat. 27:50); “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Ku-serahkan nyawa-Ku.’ Dan sesudah berkata demikian, Ia menyerahkan nyawa-Nya” (Luk. 23:46); “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya” (Yoh. 19:30).

Selanjutnya, koherensi dari kisah kematian Yesus ini juga tercermin dalam banyak fakta. Fakta-fakta ini tidak membuktikan kebenaran Alkitab melainkan menunjukkan bahwa Alkitab berisi kebenaran-kebenaran yang konsisten satu sama lain. Fakta pertama berkaitan dengan nubuatan Yesus mengenai diri-Nya sendiri. PB secara berulang kali menunjukkan bahwa kematian Yesus telah dinubuatkan oleh Yesus sendiri dalam berbagai kesempatan (Mat. 12:40; 17:22-23; 20:18; Mrk. 10:45; Yoh. 2:19-20; 10:10-11).13) Kematian Yesus dalam perspektif Alkitab bukanlah suatu kebetulan atau peristiwa naas yang mengejutkan melainkan inti dari misi Yesus datang ke dalam dunia. Selanjutnya, perlu ditegaskan bahwa nubuatan mengenai kematian Yesus pada dasarnya telah terkandung dalam ayat-ayat Perjanjian Lama yang berbicara mengenai kebangkitan Mesias dari antara orang mati (Mzm. 16:10; Yes. 26:19; Dan. 12:2).

Fakta kedua yang perlu diperhatikan adalah banyaknya saksi mata pada waktu penyaliban Yesus. Saksi mata pertama adalah para murid Yesus sendiri. Rasul Yohanes (Yoh. 19:26) dan beberapa pengikut Yesus seperti Maria, dan wanita-wanita lain berada di dekat penyaliban Yesus (Luk. 23:27; Yoh. 19:25). Berikutnya, kematian Yesus di kayu salib juga disaksikan oleh para tentara Romawi, dua orang penjahat yang disalibkan disamping Yesus (Mat.27:38), orang banyak (Mat. 27:39; Luk. 23:27) serta para pemimpin Yahudi (Mat. 27:41).

Dengan memperhatikan para saksi mata penyaliban Yesus tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa mayoritas dari mereka merupakan orang-orang Yahudi yang menghendaki kematian-Nya.14 Mereka begitu bernafsu untuk membunuh Yesus sehingga sebelum penyaliban itu sendiri berlangsung, orang-orang Yahudi telah berseru berkalikali di hadapan Pilatus agar Yesus disalibkan (Mat. 27:22-23). Orang-orang Yahudi itu bahkan berani berkata “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” (Mat. 27: 25). Kebencian orang-orang Yahudi ini begitu kuat sehingga mereka benar-benar menginginkan kematian Yesus pada waktu disalib. Selain itu, kita harus mengingat bahwa tentara Romawi adalah orang-orang yang terlatih dalam menjalankan eksekusi sehingga mereka tidak akan salah mengidentifikasi korbannya.

Berdasarkan faktor-faktor di atas, adalah jelas bahwa Alkitab menerima fakta kematian ini sebagai peristiwa historis yang pasti. Oleh karena itu, khotbah Petrus juga disertai dengan pemberitaan yang tegas mengenai kematian Yesus yang disalibkan dan dibunuh oleh orang-orang Yahudi yang durhaka (Kis. 2:23-24). Berdasarkan hal ini kita melihat bahwa bagian-bagian dalam Alkitab saling menegaskan satu sama lain bahwa Yesus telah mati di kayu salib.

Selanjutnya, pandangan Kristen mengenai fakta kematian Yesus di kayu salib juga mendapatkan dukungan dari argumentasi eksternal. Argumentasi ini tentu saja tidak dapat dipandang sebagai suatu bukti yang obyektif dalam sudut pandang Muslim. Dalam kenyataannya argumentasi eksternal seperti kesaksian sejarah tetap saja dapat dipandang tidak konklusif karena memiliki kemungkinan kesalahan. Berdasarkan pertimbangan ini, maka argumentasi eksternal haruslah dipahami sebagai bagian dari argumentasi bahwa kebenaran Alkitab juga dapat ditemukan ekspresinya dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan lain.15 Dengan kata lain, argumentasi eksternal ini menjadi ekspresi dari kebenaran Alkitab dalam dunia. Walaupun demikian, argumentasi ini sendiri tidaklah membuktikan atau mengesahkan kebenaran Alkitab.

Argumentasi Eksternal: Otoritas Sejarawan Non Kristen
Banyak orang termasuk orang Kristen tidak mengetahui bahwa fakta kematian Yesus di kayu salib bukan hanya dicatat oleh Alkitab tetapi juga diakui oleh banyak otoritas sejarawan sekuler. Tacitus (55-120 M), yang merupakan seorang sejarawan terbesar dari Romawi kuno berkata, “Christus, the founder of the name (Christians), was put to death by Pontius Pilate, procurator in Judea in the reign of Tiberius.” Nama-nama sejarawan lain yang menerima kematian Yesus akibat penyaliban adalah Suetinius, Pliny, Thallus, dan Phlegon. Mereka adalah sejarawan sekuler yang memiliki nama besar dan berotoritas dalam bidangnya. Tulisan mereka menunjukkan bahwa kebenaran proklamasi Alkitab dapat ditemukan dalam bidang ilmu sejarah.

Selanjutnya, otoritas lain yang amat penting untuk diperhatikan adalah sumber Yahudi. Talmud Babilonia menyatakan tentang Yesus demikian: “It has been taught: On the eve of passover they hanged Yeshu . . . they hanged him on the passover.” Dalam kalimat ini, kata “Yeshu” jelas mengacu pada Yesus dan kata “hanged” merupakan sebutan lain dari penyaliban (Luk. 23:39; Gal. 3:13). Selain itu, referensi mengenai penyaliban Yesus yang terjadi pada malam persiapan Paskah juga sesuai dengan kesaksian Alkitab (Yoh. 19:14). Pada tahap ini adalah penting untuk disadari bahwa para sejarawan sekuler maupun penulis Yahudi (Talmud Babilonia) tersebut bukanlah orang-orang yang mendukung kekristenan. Dalam kenyataannya, tulisan-tulisan mereka sebenarnya bernada negatif terhadap kekristenan. Mereka tidak memiliki motif keuntungan apa pun dalam menyatakan kematian Yesus di salib. Kesepakatan para lawan kekristenan dalam menerima kematian Yesus disalib sebagai fakta sejarah merupakan hal yang mendukung klaim Alkitab sebagai firman Allah.16)

Argumentasi Alkitab dan argumentasi eksternal di atas pada dasarnya lebih bersifat defensif daripada ofensif. Argumentasi defensif seperti di atas jelas diperlukan dalam hampir semua kondisi, namun argumentasi ofensif kadang-kadang diperlukan dalam kondisi tertentu.

Oleh karena terdapat dua pandangan yang berbeda dari kalangan Muslim mengenai peristiwa penyaliban Yesus, maka dalam bagian ini akan dikembangkan argumentasi sanggahan kepada penganut dari kedua pandangan ini secara berturut-turut.

Pembelaan Kristen terhadap pandangan bahwa Yesus Kristus diangkat Allah sebelum mengalami penyaliban
Dalam merespons pandangan ini, kita perlu secara jeli melihat adanya kesulitan dalam penafsiran Muslim terhadap Al Qur’an. Dalam Surat Maryam 19:15 diceritakan tentang Yohanes Pembaptis demikian: “Kesejahteraan atas dirinya pada hari dia dilahirkan dan pada hari dia meninggal dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.” Berdasarkan ayat ini, tidak ada sarjana Muslim yang menyangkal bahwa Yohanes Pembaptis lahir, mati dan akan dibangkitkan. Kata kunci “inni mutawaf-feeka” yang berarti “meninggal” juga diartikan secara literal oleh semua Muslim.

Menurut Anis A. Shorrosh, seorang Kristen yang memiliki bahasa Arab sebagai bahasa ibunya, kata “inni mutawaf-feeka” ini memang selalu berarti kematian baik dalam penggunaannya di Al Qur’an seperti ayat ini maupun di luar Al Qur’an. Uniknya, dalam konteks dekat dari pernyataan Al Qur’an mengenai Yohanes Pembaptis, terdapat kata-kata Yesus yang nyaris sama dengan ayat yang mengacu pada Yohanes Pembaptis: “. . . dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Surat Maryam 19:33).17 Kata yang dipakai untuk “meninggal” dalam ayat ini adalah sama dengan yang dipakai untuk menggambarkan kematian Yohanes Pembaptis. Selain itu, dalam Al Qur’an juga terdapat ayat-ayat lain yang menggunakan kata “inni mutawaf-feeka” untuk menggambarkan kematian Yesus (Surat Al Maa-idah 5:117, Surat Ali Imran 3:55). Pandangan mengenai kematian Yesus secara jasmaniah ini bahkan didukung juga oleh sejumlah ahli tafsir Islam.18)

Jadi, di satu sisi Al Qur’an menyatakan, “. . . Sebenarnya Allah telah mengangkat Isa itu kepada-Nya dan Allah itu adalah Maha Besar dan Maha Bijaksana” (Surat Ani-Nisa’ 4:158). Kalimat ini banyak ditafsirkan sebagai penegasan bahwa Isa tidak mengalami kematian jasmani. Tetapi di sisi lain, Surat Maryam 19:33 menyatakan bahwa Yesus mengalami kematian jasmani. Bagi penulis, kedua ayat ini menunjukkan kesulitan bagi harmonisasi yang alami. Akibatnya, tidaklah mengherankan jika sarjana-sarjana Islam sendiri berbeda penafsiran tentang apakah Yesus mati sebagai manusia biasa atau diangkat Allah ke sorga.

Selanjutnya, dalam kaitan dengan pandangan pertama ini, maka orang percaya juga perlu memberikan kritik terhadap keberagaman penafsiran mengenai figur pengganti Isa yang disalibkan orang Yahudi. Pada dasarnya hal ini menunjukkan bahwa setiap versi cerita penggantian Yesus merupakan penafsiran spekulatif terhadap Al Qur’an itu sendiri. Selain itu, kita dapat mengajukan beberapa tanggapan atas kepercayaan adanya figur pengganti Yesus di kayu salib.

Pertama, jika Allah menyerupakan seseorang menjadi seperti Isa dan akhirnya ia harus disalib, bukankah hal itu akan menjadi kasus ketidakadilan dan fitnah bagi orang tersebut? Dari sudut pandang Allah, bukankah hal ini berarti suatu usaha penipuan terhadap orang banyak? Apakah hal yang demikian ini sesuai dengan integritas Allah?19) Kedua, jika maksud Allah adalah menyelamatkan Isa, mengapa Ia perlu membuat orang Yahudi tertipu dengan adanya orang lain yang perlu disalib? Bukankah Allah cukup mengangkat Isa tanpa perlu adanya pengganti Isa di kayu salib? Apakah gunanya bagi Allah sehingga Ia harus membuat orang lain menjadi serupa Isa dan menggantikannya disalib? 20)

Selanjutnya, jika Isa sebagaimana diakui Al Qur’an memang sanggup berbuat mujizat termasuk membangkitkan orang mati (Surat Ali Imran 3:49), mengapakah Ia tidak sanggup untuk melindungi diri-Nya sendiri jikalau Ia memang tidak ingin disalibkan sebagaimana dipercaya oleh banyak penafsir Islam? Kemudian, dari sudut pandang pengganti Isa, kita dapat bertanya demikian, “Jikalau orang yang diserupakan menjadi seperti Yesus itu masih dapat berpikir dengan normal, bukankah ia selayaknya akan memberontak dan menyatakan bahwa dirinya bukan Isa?” Dalam kenyataannya hal ini tidak tercatat menurut catatan keempat Injil maupun Al Qur’an.21)

Pada tahap ini, sedikitnya ada dua alternatif kemungkinan. Pertama, Allah telah menjadikan pengganti Yesus memiliki wajah baru sekaligus pikiran yang diprogram untuk berpikir bahwa dirinya adalah Isa, atau, Allah telah mengubah wajahnya dan membungkam mulutnya walaupun ia sendiri sadar bahwa dirinya bukan Isa? Walaupun demikian, dalam kedua kasus tersebut, Allah benar-benar telah membuat orang yang diserupakan itu menjadi robot yang tak berdaya. Jika peristiwa ini benar, hal ini tentu merupakan penganiayaan terhadap kesadaran dan kehendak bebas manusia.

Selanjutnya, adalah penting untuk menyadari bahwa pandangan pertama yang ini telah banyak ditinggalkan oleh para penafsir Islam Modern. Oleh karena itu, penafsiran kedua yang mengajukan teori bahwa Yesus hanya pingsan pada saat penyaliban, telah berkembang menjadi sebuah alternatif dari pandangan tradisional.

Pembelaan Kristen Terhadap Pandangan Bahwa Yesus Mengalami Penyaliban Namun Tidak Sampai Mati
Pandangan kedua dari Muslim terhadap peristiwa penyaliban Yesus adalah kepercayaan bahwa Yesus secara aktual memang mengalami penyaliban namun hanya pingsan dan tidak sampai mati (swoon theory). Dalam perspektif Al Qur’an sebenarnya pandangan ini terkesan dipaksakan karena Surat An Nisa’4:157 dengan jelas berkata “. . . padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.” Walaupun demikian, Ahmed Deedat seorang apologet Islam yang terkenal, secara kreatif telah mencoba untuk menyesuaikan penafsirannya bahwa Yesus hanya pingsan ketika disalib dengan kesaksian Al Qur’an tersebut. Strategi utamanya adalah meredefinisi kata “menyalibkan” sebagai “membunuh di kayu salib.” Dengan definisi ini, ia menyatakan bahwa walaupun Yesus sungguh-sungguh telah naik ke kayu salib, akan tetapi karena Ia tidak mati di sana, maka adalah sah untuk menyatakan bahwa Ia “tidak disalibkan” sesuai dengan kata-kata dalam Q.S. An Nisa’4:157-158 tersebut.22 Pandangan Deedat ini akhirnya cukup banyak diadopsi oleh para penafsir Muslim kontemporer lainnya.

Pada dasarnya ada beberapa tanggapan yang dapat diajukan berkaitan dengan pandangan ini. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, penganut pandangan kedua ini percaya bahwa
murid-murid Yesus pada akhirnya melepaskan Yesus untuk pergi mengembara ke suatu tempat, misalnya Kashmir menurut golongan Ahmadiyah. Hal ini tentu berarti bahwa murid-murid Yesus mengetahui bahwa Yesus tidak mati, bangkit maupun naik ke sorga.23 Dalam menanggapi hal ini, kita perlu mengakui bahwa sumber keyakinan kita adalah Alkitab yang secara jelas mencatat baik kematian (Mat. 27:50; Mrk. 15:37), kebangkitan (Mat. 28:1-10; Mrk. 16:1-14) maupun kenaikan Yesus Kristus ke sorga (Mrk. 16:19; Luk. 24:50-51).

Selanjutnya, Alkitab juga mengembangkan sebuah logika meyakinkan yang ditulis oleh Paulus. Dalam 1 Korintus 15: 1-20, rasul Paulus berargumentasi mengenai kebangkitan Yesus yang mengimplikasikan kematian-Nya (ay. 3). Argumentasi pertama yang diajukan Paulus adalah menyatakan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama (ay. 3-4).

Selanjutnya, Paulus menunjukkan bahwa kematian Yesus yang diikuti dengan kebangkitan dan penampakan diri-Nya telah disaksikan oleh kedua belas murid-Nya bahkan lebih dari 500 orang yang kebanyakan masih hidup pada masa Paulus menuliskan suratnya (ayat 5-6). Dengan ini Paulus tentu memaksudkan bahwa jika ada orang yang tidak percaya pada fakta kebangkitan Yesus, maka mereka dapat menemui para saksi mata ini.24)

Pada akhirnya, argumentasi Paulus yang terpenting adalah bahwa kebangkitan Yesus telah diberitakan oleh para rasul. Di sini Paulus berkata kepada jemaat Korintus bahwa, “andaikata Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah pemberitaan kami dan siasialah juga kepercayaan kamu” (ayat 14) Selain itu, Paulus berkata, jika hal ini benar maka para rasul telah mendustai Allah (ayat 15) dan semua orang percaya adalah orangorang yang paling malang dari segala manusia (ayat 19). Dalam kenyataannya, tentu saja hal ini bukanlah kasus yang aktual melainkan hipotetis semata-mata. Para rasul bukanlah orang yang berdusta terhadap Allah dan berbuat kebodohan dengan memberitakan kebohongan kematian dan kebangkitan Yesus.

Pada tahap ini orang percaya perlu berpikir mengenai keuntungan apakah yang didapatkan murid-murid Yesus dengan memberitakan suatu berita yang mereka sendiri ketahui sebagai kebohongan, sampai menjadi martir? Tentu saja amat sulit untuk menerima hal ini dengan akal sehat. Akan tetapi, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa yang sesungguhnya terjadi tidaklah demikian. Paulus berkata, “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (ay. 20).

Setelah melihat penegasan Alkitab tentang kematian Yesus dan kebangkitannya di atas, perlu juga dikritisi rasionalitas dari pandangan Muslim berdasarkan penafsiran Al Qur’an. Pertama, Surat An Nisa’ 4:157 dengan jelas berkata, “. . . mereka tidak membunuh dan tidak (pula) menyalibnya.” Jikalau para penganut teori pingsan ini meredefinisi kata “menyalib” dengan pengertian “membunuh di kayu salib” maka tentu saja terdapat pengulangan kata yang tidak perlu dalam ayat tersebut.

Parafrase ayat tersebut sesuai dengan definisi yang baru ini menjadi demikian: “mereka tidak membunuh dan tidak pula membunuhnya di kayu salib.” Dari sudut pandang gramatikal hal ini tentu tidak wajar. Penafsiran yang wajar tampaknya telah dilakukan pandangan tradisional yang menyatakan bahwa ayat tersebut berbicara mengenai dua hal: (1) orang-orang Yahudi tidak membunuh Isa; dan (2) orang-orang Yahudi tidak menyalibkan Isa. Di sini kita melihat bahwa pengertian yang diusahakan oleh Deedat dan penafsir Muslim kontemporer lainnya adalah suatu pemaksaan.

Selanjutnya, kita juga dapat mempertanyakan, “Apakah dalam pengembaraan-Nya Yesus sama sekali tidak mengetahui bahwa murid-murid-Nya telah berbohong dengan memberitakan penyaliban, kematian dan kebangkitan-Nya (Kis. 2:14-40)? Jikalau Ia memang mengetahui hal ini, bagaimana mungkin Yesus, seorang utusan Allah yang saleh (menurut pandangan Islam) dapat membiarkan murid-murid-Nya menyiarkan kabar bohong tentang diri-Nya tanpa berhasil untuk meluruskannya?

Paulus: Sang Penyesat Utama
Selain mengajukan beberapa argumentasi di atas, kita juga perlu untuk memahami pandangan Muslim yang populer mengenai agama Kristen. Para apologet Muslim sering kali berargumentasi bahwa penyelewengan berita yang meninggikan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat selalu dikaitkan dengan Paulus yang dianggap sebagai penyesat. Fakta kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus dianggap sebagai rekayasa Paulus seorang diri.25) Sebagian dari Muslim bahkan berpendapat bahwa injil yang diberitakan Paulus berbeda dengan injil dari para rasul lainnya.26)

Dalam menanggapi tuduhan Muslim tersebut, orang percaya perlu menunjuk pada Alkitab yang mencatat bahwa berita kematian, kebangkitan, kenaikan dan ketuhanan Yesus bukanlah berita eksklusif Paulus, melainkan semua rasul Yesus (Yak. 2:1; 1Ptr. 1:3; 1Yoh. 3:16; Yud. 4). Dalam Kisah Rasul 2:14-40 diceritakan bahwa Petrus berkhotbah mengenai kematian (2:23), kebangkitan (2:124-32) kenaikan serta ketuhanan Yesus (2:33-36). Adalah penting untuk memperhatikan bahwa pada saat itu Petrus berkhotbah dengan disertai para rasul lainnya (2:14). Berdasarkan hal ini adalah jelas bahwa berita Petrus merupakan berita yang secara bersama-sama diyakini oleh para rasul lainnya. Tuduhan Muslim bahwa Pauluslah yang menciptakan doktrin kematian, kebangkitan, kenaikan dan ketuhanan Yesus Kristus tidak memiliki dasar argumentasi yang kuat dalam perspektif Kristen.

Membangun Toleransi Sejati

Kematian Yesus Kristus disalib adalah sebuah fakta sejarah yang di atasnya bangunan keselamatan orang Kristen didirikan. Bertentangan dengan hal itu, hampir semua umat Islam sepakat bahwa Yesus tidak mengalami kematian di kayu salib. Dua pandangan tersebut adalah salah satu dari sekian banyak aspek ajaran yang berbeda antara Kristen dan Islam. Fakta ini menggemakan suara yang makin terhimpit akhir-akhir ini: ”Semua agama tidak sama”. Penulis sungguh terkesan dengan usaha sebagian pembela ajaran Islam yang menegaskan perbedaan ajarannya dengan ajaran-ajaran lain termasuk Kristen. Menegaskan keyakinan akan keunikan ajaran suatu agama di tengah arus pluralisme teologis dewasa ini memang perlu nyali untuk dianggap ”fundamentalis” dan ”fanatik”. Keberanian dan kejujuran semacam ini perlu dihargai secara tulus.

Walaupun demikian, keberanian dan kejujuran dalam menegaskan keyakinan seseorang tentu saja harus disertai dengan sikap toleran dan hormat terhadap penganut agama lain. Dalam paradigma inilah setiap orang Kristen harus tetap teguh dalam keyakinannya atas fakta kematian Yesus di kayu salib sambil tetap menghargai pandangan yang berlawanan (demikian juga sebaliknya!). Perbedaan itu biasa, pertengkaran itu luar biasa (memalukannya!). Menegaskan perbedaan dan mengakui ”persamaan”27 adalah salah satu modal toleransi sejati tanpa topeng murahan ”semua agama sama”. #
--- --- ---


FOOTNOTE :
1) Judul buku yang dimaksud adalah Mempertanyakan Kebangkitan dan Kenaikan Isa Almasih (Indonesia: Bima Rodheta, 2004). Buku ini telah memasuki cetakan ke delapan.
2) Lih. hal. 36-37 (Penerbit Dua Lautan, 2006). Orang-orang Kristen memang sabar (atau cuek?). Diserbu dengan tulisan-tulisan seperti itu kok tidak ada yang demo ya? Coba kalau sebaliknya?
3) Tidak ketinggalan juga kepada Dan Brown dan National Geopraphic Society yang mempopulerkan Injil Yudas karena turut mendorong banyak orang Kristen masuk ruang seminar, kelas-kelas pembinaan doktrin serta belajar sejarah gereja.
4) Perkecualian amat sedikit. Mahmud Ayyub adalah contoh teolog Islam yang percaya bahwa Yesus memang mati disalib (William Montgomery Watt, Islam [Yogyakarta: Jendela, 2002] 88-89).
5) Pandangan ini dianut oleh Ichwan Hariyadi (Intelektual Muslim Versus Missionaris [t.k.: Pustaka Da’i, 2003]
305-306).
6) Lih. Bey Arifin. Maria, Yesus dan Muhammad (Surabaya: Bina Ilmu, 1985) 43.
7) Hasbullah Bakry, Isa dalam Qur’an, Muhammad dalam Bible (Jakarta: Firdaus, 1989) 46.
8) Lih. Imam Muchlas, Pandangan Al Qur’an Terhadap Agama Kristen (Surabaya: Al-Ihsan, 1982) 54-55.
9) Pandangan ini dianut oleh beberapa tokoh seperti Bakry, Isa dalam Qur’an 46-53; Abul Ata, Debat Kairo: Muslim versus Ahli Kitab (Jakarta: Radja Pena, 1991) 46-96; dan Ahmed Deedat dalam bukunya yang amat populer di kalangan Muslim: The Choice: Dialog Islam-Kristen (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2003)409-516.
10) Isa dalam Qur’an 47.
11) Menjadi saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk (Jakarta: Penerbit Obor, 2004) 142.
12) A Passion for Truth (Downers Grove: InterVarsity, 1996) 216.
13) Dean C. Halverson, “Islam” dalam The Compact Guide to World Religions (ed. Dean C. Halverson; Minneapolis: Bethany, 1996) 117.
14) Bdk. Norman L. Geisler dan Abdul Saleeb. Answering Islam: The Crescent in the Light of The Cross (Grand Rapids: Baker, 1995) 274.
15) Bdk. John M. Frame, Apologetika bagi Kemuliaan Allah (Surabaya: Momentum, 2000) 28-29.
16) Lih. Josh McDowell, The New Evidence That Demands a Verdict (Nashville: Thomas Nelson, 1999) 119-136.
17) Anis A. Shorrosh, Kebenaran Diungkapkan: Pandangan Seorang Arab Kristen Tentang Islam (Jakarta: Kelompok Kerja Philia Jakarta, 1988) 103.
18) Lih. Muchlas, Pandangan Al Qur’an 63-64. Muchlas mengutip banyak ahli tafsir Islam yang mengartikan kata “mutawaf-feeka” ini sebagai kematian literal yang alamiah. Walaupun demikian, Muchlas menolak penyaliban Yesus sebagai penyebabnya. Ia percaya bahwa terdapat orang lain yang menggantikan Yesus dan akhirnya Yesus mati sebagai manusia biasa di Kashmir sebagaimana pandangan kaum Ahmadiyah. Dalam kenyatannya beberapa ahli tafsir Islam lainnya menolak mengartikan kematian Yesus di sini secara literal. Hal ini jelas merupakan usaha untuk mengupayakan konsistensi penafsiran Muslim ortodoks yang percaya bahwa Yesus diangkat Allah dan oleh sebab itu tidak mengalami kematian.
19) Bdk. Kenneth Cragg, Azan, Panggilan dari Menara Masjid (Jakarta: Gunung Mulia, 1973) 341.
20) Bdk. Josh McDowell dan John Gilchrist, The Islam Debate (California: Campus Crusade for Christ, 1983)
108.
21) Bdk. McDowell dan Gilchrist, The Islam 107; McGrath, A Passion 216-217.
22) McDowell dan Gilchrist, The Islam 112-113.
23) Lih. Bakry, Isa dalam Al Qur’an 47.
24) Frame, Apologetika 78-79.
25) Bakry, Isa dalam Qur’an 55-72; Bdk. Munir, Islam Meluruskan 93-191. Mayoritas pembela ajaran Islam memang anti Paulus. Paulus dianggap sebagai pendiri agama Kristen sekarang ini dan bukan Yesus. Tidak heran jika Injil Barnabas yang menjadi favorit bagi sebagian umat Islam menyebut Paulus sebagai penyesat dalam pasal pertamanya (Terjemah Injil Barnabas [Surabaya: Bina Ilmu,....] 1).
26) Munir, Islam Meluruskan 111-125.
27) Persamaan yang dimaksud adalah kemiripan ajaran agama-agama di level permukaan (misalnya: Golden Rule yang ditemukan dalam berbagai tradisi agama), tetapi tidak dalam arti persamaan yang hakiki dalam satu atau seluruh aspek ajaran agama-agama. Penulis percaya bahwa agama-agama saling konflik dalam epistemologi dan seluruh aspek wawasan dunianya. 

http://paulusteguh.blogspot.com/2011/03/tanggapan-terhadap-buku-mustahil_21.html


Free Music | Free Christmas songs at EZ-Tracks.com